Tanggamus, MTsN 1 (Humas) – Pembelajaran Matematika tidak selalu harus dimulai dengan rumus dan berakhir dengan deretan angka di papan tulis. Di kelas VII.B, konsep rasio justru dipelajari melalui diskusi kelompok, pemecahan masalah kontekstual, presentasi, hingga aksi nyata menjaga kebersihan lingkungan. Pembelajaran ini menjadi bagian dari supervisi kepala madrasah terhadap guru Matematika, Siti Puji Rahayu, S.Si., dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran yang bermakna bagi murid, Selasa (27/10/2026).

Mengusung tema “Kurikulum Berbasis Cinta: Mencintai Ilmu, Mencintai Lingkungan”, kegiatan tersebut menerapkan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) yang mengintegrasikan kemampuan numerasi dengan pembentukan karakter dan kepedulian terhadap lingkungan.

Dalam proses pembelajaran, guru tidak langsung memberikan rumus rasio untuk dihafalkan. Murid terlebih dahulu diajak mengamati persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, yakni perbandingan jumlah botol plastik dan daun kering yang berserakan di halaman madrasah.

Melalui pertanyaan kontekstual, murid diminta menentukan perbandingan delapan botol plastik dengan dua belas daun kering, kemudian menyederhanakannya menjadi rasio 2:3. Cara ini mendorong murid memahami konsep rasio melalui proses menemukan, bukan sekadar mengingat rumus.

Siti Puji Rahayu menjelaskan bahwa pembelajaran dirancang agar murid terlibat aktif dalam membangun pemahaman. Menurutnya, ketika murid menemukan sendiri konsep matematika melalui pengalaman dan diskusi, pemahaman yang diperoleh akan lebih bermakna.

“Anak-anak tidak kami suruh sekadar menghafal, tetapi menemukan. Ketika mereka memahami sendiri bahwa perbandingan 8:12 dapat disederhanakan menjadi 2:3, mereka tidak hanya mengetahui jawabannya, tetapi juga memahami proses dan maknanya,” jelasnya.

Dalam kegiatan tersebut, murid kelas VII.B dibagi menjadi lima kelompok kecil. Setiap kelompok memperoleh Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) sebagai panduan untuk berdiskusi, menganalisis permasalahan, dan menyusun hasil temuan. Proses belajar berlangsung melalui pendekatan mindful, meaningful, dan joyful learning, yang mendorong murid belajar secara sadar, memahami manfaat materi, serta menikmati proses pembelajaran.

Setelah berdiskusi, setiap kelompok mempresentasikan hasil pekerjaannya di depan kelas. Murid tidak hanya menyampaikan perhitungan matematis, tetapi juga menghubungkan konsep rasio dengan solusi terhadap persoalan kebersihan di lingkungan madrasah.

Salah satu kelompok, misalnya, mengidentifikasi perbandingan sampah organik dan anorganik di kelas sebesar 3:2. Dari hasil diskusi tersebut, mereka mengusulkan penyediaan tempat sampah terpisah serta pembagian tugas piket secara proporsional. Kegiatan ini memperlihatkan bahwa matematika dapat digunakan untuk membantu murid memahami dan menyelesaikan persoalan nyata.

Pelaksanaan supervisi kepala madrasah menjadi bagian penting dalam memastikan proses pembelajaran berjalan sesuai dengan tujuan yang telah direncanakan. Supervisi tidak hanya berfokus pada pelaksanaan administrasi pembelajaran, tetapi juga pada strategi mengajar, keterlibatan murid, penguasaan materi, serta kemampuan guru menghadirkan pembelajaran yang aktif, kontekstual, dan berpusat pada murid.

Melalui kegiatan ini, pembelajaran Matematika juga diintegrasikan dengan nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta. Murid diajak memahami bahwa mencintai ilmu tidak dapat dipisahkan dari kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. Pengetahuan yang diperoleh di kelas diharapkan mampu mendorong perubahan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan tentang pentingnya menjaga kebersihan menjadi salah satu nilai yang ditekankan dalam pembelajaran tersebut. Murid diajak menyadari bahwa kebersihan lingkungan madrasah merupakan tanggung jawab bersama yang perlu diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sekadar imbauan.

Sebagai penutup, seluruh murid kelas VII.B melaksanakan aksi operasi semut dengan memungut sampah di lingkungan madrasah. Aksi ini menjadi bentuk penerapan hasil pembelajaran sekaligus wujud kepedulian terhadap kebersihan dan kenyamanan lingkungan belajar.

Melalui supervisi dan pembelajaran mendalam ini, MTs Negeri 1 Tanggamus terus mendorong terciptanya pembelajaran yang tidak hanya mengembangkan kecerdasan intelektual, tetapi juga menumbuhkan karakter, tanggung jawab, dan kepedulian lingkungan. Dengan demikian, matematika tidak lagi sekadar tentang angka dan rumus, melainkan juga menjadi sarana membentuk generasi yang cerdas akal, berakhlak mulia, dan mampu menerapkan ilmu dalam kehidupan nyata.